Selamat Ulang Tahun

Selamat Ulang Tahun ke-211, Garut!

Hari ini, Jumat 16 Februari 2024 adalah Hari Jadi Garut (HJG) yang ke-211. Selama 211 tahun eksis, banyak perkembangan di kota berjuluk Swiss van Java ini.

Setiap tahunnya, HJG diperingati dengan rangkaian kegiatan seremoni yang dipimpin Bupati Garut. Mulai dari berziarah ke makam-makam para bupati terdahulu, hingga upacara bendera dan pesta rakyat.

Tak mengherankan, jika setiap tahunnya HJG selalu dirayakan oleh masyarakat. Sebab, terlepas dari beragam potensi hingga permasalahannya, Garut selalu mendapatkan tempat di hari masyarakat.

Ngomong-ngomong soal Garut, Kabupaten yang satu ini, terbentuk pada 1811. Hadirnya Garut tak lepas dari pembubaran Kabupaten Limbangan, yang kala itu dilakukan pemerintah kolonial Belanda.

Dalam sebuah jurnal berjudul Sejarah Perkembangan Kabupaten Garut karya Farizal Hami dan Samsudin dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung dikatakan, pembubaran Limbangan didasari menurunnya produksi kopi Kabupaten Limbangan pada tahun tersebut.

“Pada akhir-akhir sebelum dipindahkan, produksi kopi yang ada di Limbangan menurun drastis hingga titik paling rendah. Dan bupati menolak menanam bila (indigo),” kata keduanya.

Dua tahun setelahnya, tepatnya pada 1813, Raffles yang kala itu menjabat Letnan Gubernur Belanda di Indonesia mengeluarkan surat keputusan pembentukan kembali Kabupaten Limbangan. Namun, dalam keputusannya, Raffles ingin memindahkan ibu kota dari yang tadinya di wilayah Utara, menuju kawasan Suci, yang kini masuk Kecamatan Karangpawitan.

Seketika saat itu, Bupati Limbangan Raden Adipati Aria (RAA) Adiwijaya kemudian langsung membentuk tim panitia, untuk mencari tempat yang pas untuk dijadikan lokasi ibu kota Kabupaten.

Bagian barat Suci, kemudian dipilih. Sebab, selain tanahnya yang dianggap subur, anggota panitia bersepakat menetapkan tempat ini jadi ibu kota karena memiliki mata air langsung dari Sungai Cimanuk.

Tempat ini juga, terlihat sangat indah karena dikelilingi Gunung Guntur, Papandayan dan Cikuray https://www.stealth-energy.com/. Di momen itu juga, dipercaya panitia menemukan sebuah mata air berupa telaga kecil, yang tertutup semak belukar.

Dikutip dari laman resmi Pemkab Garut, garutkab.go.id, saat itu kabarnya ada seorang anggota panitia yang ‘kakarut’ atau tergores tanaman berduri.

Kejadian ini dilihat oleh seorang dari Eropa yang ikut dalam rombongan panitia. Orang ini lantas bertanya kenapa sang anggota panitia terluka di bagian tangan. Setelah dijelaskan panitia tersebut ‘kakarut’, rupanya sang Meneer berupaya menirukan perkataan tersebut.

“Orang Eropa atau Belanda tersebut menirukan kata ‘kakarut’ dengan lidah yang tidak fasih sehingga sebutannya menjadi ‘Gagarut’,” katanya.

Dari situlah, konon kabarnya nama Garut kemudian populer hingga dijadikan nama yang menggantikan Kabupaten Limbangan. Sebab, setelah momen itu, panitia menamai pohon berduri yang menggores lengan rekannya dengan nama ‘Ki Garut’.

Sedangkan sumber mata air yang juga ditemukan di dekat lokasi tadi, dinamai ‘Ci Garut’ dan akhirnya, daerah itu dinamai Garut.

Asal-usul Garut ini, diyakini ada di kawasan Sumbersari. Mata air ‘Ci Garut’, sekarang ada di dalam kompleks SMPN 4 Garut. Nama Garut, kemudian disetujui oleh Bupati RAA Adiwijaya, untuk menjadi ibu kota Kabupaten Limbangan.

Berdasarkan SK Gubernur Jenderal Nomor 60 tertanggal 7 Mei 1813, nama Kabupaten Limbangan kemudian diganti menjadi Kabupaten Garut, dengan ibu kota di Garut, terhitung mulai 1 Juli 1813.

Selanjutnya, pada 15 September 1813, di bawah kepemimpinan Bupati RAA Wiratanudatar dilaksanakan acara peletakan batu pertama pembangunan sarana dan prasarana ibu kota. Meliputi pendopo, alun-alun, penjara, babancong, hingga masjid agung.

“Kota Garut saat itu meliputi tiga desa. Yakni Kota Kulon, Kota Wetan dan Margawati. Sementara Kabupaten Garut meliputi distrik-distrik Garut, Bayongbong, Cibatu, Leles, Tarogong, Balubur Limbangan, Cikajang, Bungbulang dan Pameungpeuk,” katanya.

14 Agustus 1925, Kabupaten Garut kemudian disahkan menjadi daerah pemerintahan yang berdiri sendiri, atau otonom. Kala itu Garut dipimpin Bupati RAA Soeria Kartalegawa.

“Garut dianggap sebagai jantungnya Priangan, sebelum Bandung populer. Penjelajah Belanda menganggap bahwa Garut memiliki keindahan geografis dan perkebunan yang memikat juga menjadi magnet bagi pengunjung dari mancanegara,” kata Sejarawan Garut, Warjita.

Dengan segudang potensi yang dimiliki, Garut kemudian melejit menjadi kota yang terkenal dan menjadi destinasi para pelancong. Bukan sekadar pelancong, mulai dari Charlie Chaplin, Archduke Franz Ferdinand, hingga Tsar Nicholas II dan Presiden Soekarno berulang kali datang ke sini.

Atas keindahannya itu pula, Garut juga mendapatkan julukan Swiss van Java yang kira-kira berarti ‘Swiss-nya Jawa’, hingga Mooi Garoet (Garut Indah) yang konon disematkan oleh para pelancong yang datang.

Terkait tanggal lahir Garut sendiri, diketahui ada beragam versi yang berbeda, yang menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Namun, berdasarkan Perda Kabupaten Garut Nomor 30 tahun 2011 tentang Hari Jadi Garut, dinyatakan bahwa Hari Jadi Garut diperingati setiap tanggal 16 Februari setiap tahunnya.