Melihat Pluralisme

Melihat Pluralisme di Karawang dari Dulu hingga Sekarang

Melihat Pluralisme – Tak hanya di kenal sebagai lumbung padi sejak dahulu, Karawang juga di kenal sebagai daerah paling toleran bagi umat beragama dari berbagai etnis selama berabad-abad.

Dalam perayaan imlek kali ini, gmfkppijabar.com berkesempatan mewawancarai salah satu tokoh Buddha sekaligus aktivis pluralisme nasional dari Karawang, Nyana Wangsa. Ia kini menjabat sebagai Ketua Pembina Yayasan Dharma Prasada Mahametha.

“Kalau berbicara Karawang ini merupakan tempat tinggal yang nyaman dari kalangan umat beragama sejak dahulu yah. Bahkan juga berperan penting dalam perisiwata kemerdekaan Indonesia,” ujar Nyana Wangsa saat di temui di Klenteng Bio Kwan Tee Koen, Jalan Tuparev, Kabupaten Karawangan.

Nyana menuturkan, pada masa Orde Baru indeks kerukunan beragama di Karawang merupakan yang tertinggi di Indonesia, bahkan hingga kini masih terhitung yang paling tinggi.

“Tahun 1984 sampai 1998 saya kebetulan ketua Bakom PKB (Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa) religiosity index (indeks kerukunan beragama) waktu itu mencapai 92 persen, bahkan pada saat kerusuhan tahun 1998 di setiap daerah terjadi penjaran, Karawang ini tidak. Jadi, dari Cirebon ke Indramayu, ke Cikarang itu ada kerusuhan, tapi Karawang ini nggak terpengaruh tetap aman,” ungkapnya.

Baca juga: Tempat Wisata Horor di Jawa Barat yang Bikin Merinding

Hal itu, juga menunjukkan bahwa, toleransi dan pluralisme di Karawang sangat melekat sejak zaman dahulu, bahkan kata Nyana, jiwa sosial antarumat beragama juga sangat terasa jika ada kegiatan keagamaan di Karawang.

“Kita di Kelenteng ini, sering juga bulan puasa gelar buka bersama bagi-bagi takjil. Bahkan kawan-kawan umat kristen protestan dan katolik juga tahu kalau mereka merayakan Natal, Misa. Kita sering terlibat ikut mempersiapkan utamanya kalau umat kristen itu tetangga kita. Ini pemandangan yang cukup biasa dan sangat di lestarikan di Karawang,” paparnya.

Bahkan hingga saat ini, Nyana memang masih berperan dalam forum kerukunan umat beragama di kancah nasional juga mengungkapkan. Religiosity index di Karawang masih yang tertinggi sebab kesetaraan. Toleransi dan kerja sama antar umat beragama masih berjalan.

“Saat ini juga sama, religiosity index di Karawang masih mencapai 85 persen. Karena indikatornya masih di lestarikan, seperti toleransi, kesetaraan, toleransi, kesetaraan. Kerja sama itu masih bisa kita rasakan juga sampai dengan sekarang,” pungkasnya.